Rabu, 16 Desember 2015

TRADISI CEMBENGAN (CEMBRENGAN)

TRADISI CEMBENGAN

            Berkembang pesatnya industri gula di tanah Jawa pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda dimasa lalu ternyata juga memberikan dampak pada perkembangan tradisi dan budaya dilingkungan pabrik gula. Tradisi tersebut muncul akibat adanya akulturasi budaya yang dibawa oleh kelompok-kelompok suku atau etnis yang bekerja dilingkungan pabrik. Salah satu tradisi yang berkembang kala itu dan masih lestari hingga kini adalah tradisi Cembengan (Cembrengan).
            Tradisi Cembengan adalah sebuah tradisi yang berasal dari kebudayaan masyarakat Tionghoa yang bernama Cing Bing. Tradisi tersebut berbentuk ziarah kubur yang dilakukan warga keturuanan Tionghoa ke makam leluhur mereka sebelum melakukan karya besar. Seiring dengan berjalannya waktu, tradisi inipun juga dilakukan oleh masyarakat lokal dan menyebutnya dengan tradisi Cembengan.  
            Terkait dengan tradisi Cembengan atau ziarah kubur di Kota Surakarta terdapat sebuah tugu yang dibangun pada masa Paku Buwono X yang bernama tugu Cembengan. Tugu tersebut dinamai Tugu Cembengan karena berada diantara rumah persemayaman jenazah warga Tionghoa Tiong Ting yang berada disebelah barat tugu dan komplek pemakaman Tionghoa (bongpay) Mojo yang berada disebelah timur tugu.
            Seiring dengan berjalannya waktu, tradisi Cembengan mulai berkembang disesuaikan dengan tradisi kebudayaan Jawa. Hal ini dilakukan oleh Raja Mangkunegaran kala itu yakni KGPAA Mangkunegara IV yang memiliki dua pabrik gula yakni PG Tasikmadu dan PG Colomadu. Tradisi Cembengan yang dahulu hanya sebatas ziarah kubur telah dikembangkan kedalam beberapa bentuk acara seperti pertunjukkkan wayang kulit, pasar malam, pesta rakyat, manten tebu, dan lain sebagainya.
            Tradisi Cembengan lazimnya dilakukan sebelum melakukan proses giling tebu. Hal ini dimaksudkan agar saat proses giling tebu berlangsung tidak ada halangan atau kendala yang menggangu dalam proses giling. Selain itu tradisi Cembengan juga merupakan bentuk harapan agar hasil giling bisa maksimal sesuai dengan yang diharapkan.


Selamatan Giling Pabrik Gula Tasikmadu Tahun 1925
sumber: kitlv.nl


Tradisi Cembengan
Sumber: timlo.net  




Tidak ada komentar:

Posting Komentar